queen-ing, washing then blogging

Thursday, March 19, 2020

Bosan Dengan Wisata Yang Itu-itu Saja, Yuk Ke Papua Destinasi Wisata Hijau


Aloha!
Apakabar?
Masih dalam masa selfquarantine 14 hari pertama. Tetap jaga imunitas tubuh, jangan sampai drop.
Meski dalam masa selfquarantine ini, gak papalah ya, kalau saya ngomongin tentang travelling/berwisata. Mudah-mudahan Badai Corona segera berlalu dan kita bisa berwisata kemanapun dompet membawa kita. Hihihi.

PAPUA.
Terbersit beberapa kata.

Jauh. Iyalah, karena saya berasal dan bermukim di Indonesia bagian Barat. Sebenernya jauh dekat itu kan relatif ya, sedekat sahabat, sejauh harga tiket yang melambung. Tapi, kalau dipikir-pikir, selama ada akses transportasi umum (Garuda Indonesia, Lion Air, Citilink, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, Trigana Air) ke sana, itu bisa dibilang TERJANGKAU. Setuju?

Malaria. Saya ingat beberapa tahun lampau, saat saya masih kecil dan Papa ada tugas dinas ke Papua, beliau diwanti-wanti harus bawa obat Malaria (kina). Ternyata, sampai sekarang Papua masih menjadi wilayah endemis Malaria, 70% kasus penyakit Malaria ada di Papua (pospapua)

Raja Ampat. Siapa ga kenal dengar kata ini? Tempat wisata diving paling cakep sejagad raya, yang berbanding lurus dengan harganya. Hahaha.

Itu aja sih yang terlintas di pikiran saya. Tapi, sebenernya ada ga sih tempat wisata yang lebih ekonomis dibandingkan Raja Ampat di dataran Papua Barat?

Ada gaes.
Tapi sebelumnya, saya kasi info dulu tentang Papua, terutama Hutan Papua.

Papua memiliki 38% hutan primer yang tersisa di Indonesia. Hutan Papua juga memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, dengan 20.000 spesies tanaman, 602 jenis burung, 125 mamalia dan 223 reptil. Hutan ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak masyarakat setempat.Pada tahun 2015, Papua Barat menjadi propinsi konservasi pertama di dunia (Sumber : WRI - Indonesia)

Jadi, dengan uraian tersebut, jangan kaget kalau hutan belantara masih sangat banyak di Papua dan sangat berpotensi menjadi Papua Destinasi wisata hijau atau Ekowisata.

Di antara destinasi wisata hijau Papua yang sudah lebih dahulu tenar, ternyata ada ekowisata yang masih tergolong baru, yaitu Teluk Sarawandori.

Ekowisata Teluk Sarawandori.

Ekowisata Teluk Sarawandori ini dipelopori dari seorang penebang liar bernama Andi Leo yang ingin mengubah nasib dan bertemu dengan Ottow Maker, seorang Kepala Pengelolaan Hutan Provinsi (KPHP). Andi mengemukakan hobinya kepada Ottow, yaitu snorkling. Tak beberapa lama, perangkat yang dibutuhkan untuk hobi tersebut seperti fin, kacamata, kamera Gopro, disediakan oleh Ottow.
Andi pun semakin antusias dengan hobinya. Kemudian Andi menjadi pemandu wisata untuk pilot muda, momen tersebut menjadi permulaan Ekowisata ini.

Untuk promosi, Andi menggunakan baliho di depan kediamannya, menggunakan sosial media Facebook dan Whatsapp. Promosinya berhasil dan makin banyak wisatawan berkunjung ke Teluk Sarawandori. Terdapat paket individu mulai harga 400 ribu/orang dan paket kelompok mulai harga 600 ribu/orang.

Setelah Andi pulang studi banding dari Yogya, spot wisata di Sarawandori diperbanyak. Dari media sosial, Andi banyak menemukan spot foto instagramable untuk ditiru. Di Sarawandori, Andi menawarkan spot foto yang tidak hanya menampilkan hutan, tapi juga laut. Andi dan Dinas Kehutanan bekerjasama mewujudkan spot tersebut, sehingga akhirnya terwujud dengan peresmian pada bulan Agustus 2017. 

Selain mengelola Ekowisata, Andi juga bertugas dan mempunyai jadwal khusus untuk menjaga hutan dari penebang liar. Itulah maksud dari ungkapan, "Beradat Jaga Hutan" (Econusa)

Ekowisata Teluk Sarawandori terletak di kabupaten Kepulauan Yapen di Papua, berjarak 10 km ke arah barat dari ibukota kabupaten Yapen, Serui.Untuk mencapai Serui, pesawat transit dari bandara Biak atau bandara Jayapura. Dari bandara Frans Kaisiepo Biak, untuk ke bandara Stevanus Rumbewas Surei bisa melalui jalur udara menggunakan Trigana Air sekitar 20 menit. Dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Serui ke Sarawandori selama 20 menit.

Menyusuri tebing pantai Sarawandori terdapat telaga yang semula bernama telaga Teluk Pamoi, tapi kemudian diganti mengacu ke tempat telaga tersebut berasal yaitu Sarawandori.

Terdapat tempat parkir yang luas dan dilengkapi dengan gazebo berlatar belakang pemandangan alam Sarawandori.
Tiket masuk pantai Sarawandori seharga 20 ribu (lelungan.net)
Untuk menjelajahi telaga Sarawandori harus menyewa perahu jukung seharga 60 ribu selama 45 menit. Air di teluk Sarawandori sangat tenang bahkan tidak ada ombak. Telaga tersebut berwarna bening kehijauan.



Setelah lelah menjelajah Teluk Sarawandori, jangan lupa minum air kelapa muda sebagai pengganti cairan tubuh dari panas teriknya matahari.

Somehow, ngebayangin Sarawandori ini seperti kampung halamannya Moana loh. Ada hutan, ada laut.
Kebayang ga?
Kalo masih ga kebayang, kuy lah buktikan sendiri langsung ke Sarawandori.


Referensi :
kompasiana
lelungan
Econusa
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terimakasih kunjungannya. Komennya dimoderasi. Semua komen saya baca Dan akan segera saya kunjungi balik :)