queen-ing, washing then blogging

Sunday, May 3, 2020

Tetap Tenang Saat Sakit Di Masa Pandemik Corona


Aloha!
Apakabarnya di awal Mei ini?
Semoga tetap sehat dan tetap setia di rumah.

Pandemik virus Corona ini memang
merupakan kejadian luar biasa.
Kejadian luar biasapun terjadi di rumah saya, pada suatu pagi sebelum suami saya berangkat kerja.

Suami : "Ma, gula ada?"
Saya : "Ada. Memangnya habis? Kan baru diisi?"
Suami : "Gula kita apa?" (Sembari mengetik di hp)
Saya : "ge em pe"
Suami : "berapa? Ada di sini?"
Saya : "ada. 18ribu sekilo. ADA APAAN SIH PAGI-PAGI GINI KAMU NANYAIN MERK GULA??" (saya penasaran sembari ngikik)
Suami : "oh ini, si Ruse, nanyain stok gula. Soalnya di daerah rumahnya stok gula merk GULAMU (*disamarkan) dan merk gula lainnya dimana-mana habis"
Saya : "lalu?"
Suami : "ya dia menyarankan kita untuk stok gula untuk beberapa bulan ke depan"
Saya : "ohhhhh begitu. Alhamdulillah pasokan gula di sini aman, cuma duitnya yang ga ada untuk nimbun gula. Hahahaha" (nyengir)

Luar biasa kan? Suami saya biasanya mah tau minum kopi manis pake gula tanpa peduli apa merk gulanya tetiba jadi perhatian sampe nanyain merk gula. Pun temennya  yang diujung sana tetiba ngerti merk gula dan harganya. Saya cuma ngikik-ngikik aja inget kejadian itu merusak pagi saya yang syahdu dan normal menjadi tidak normal dan luar biasa.

Pandemik Virus Corona ini mau-ga-mau mengharuskan saya dan keluarga untuk membetahkan diri di rumah. Ga ada jalan-jalan santai sore naik motor. Ga ada jalan-jalan eksplor Jonggol, ga ada kunjungan rutin ke rumah orangtua di Bekasi.
Seribu kali sehari, anak saya bertanya, "mah kapan kita ke rumah eyang?".
Seribu kali saya jawab dengan jawaban yang sama, "nanti ya nak kalau sudah selesai Coronanya".
Yang entah kapan, ga ada yang tau.

Awal-awal pembatasan sosialisasi mandiri terasa begitu berat. Waktu banyak, tapi kok ga sempet me-time. Ternyata, anak-anak juga sebentar-sebentar minta ditemenin main. Sebentar-sebentar minta cemilan popcorn. Sebentar-sebentar minta cemilan buah.
Saat mereka sudah mulai bosen dengan mainannya, saya pun membiarkan mereka yang berinisiatif main trampolin di kasur. Ya sudahlah, mereka BT, jenuh dan bosen. Abis main trampolin, bisa diberesin lagi. Ya mau gimana lagi? Semua idealisme rumah harus rapih, gadget dan screen time ideal harus saya abaikan. Pandemik ini ga mudah untuk semua orang, termasuk anak-anak.

Rumah saya ga sebesar lapangan bola tapi Alhamdulillah bisa menjadi naungan saat hujan panas. Ya bocor-bocor dikit pas hujan heboh mah wajar. Di ruang yang terbatas itulah, saya ingin membuat anak-anak nyaman dan betah. Gak papa, berantakan, nanti saya bisa suruh mereka merapihkan atau suami saya bantu merapihkan printilan-printilan mereka.

Stok cemilan favorit mereka yang bisa saya olah sendiri, saya sediakan. Seperti jagung popcorn, jelly, buah, roti. Apa aja sebatas kemampuan saya, pasti saya usahakan penuhi.

Setelah sekolah TK anak saya diliburkan, saya langsung pesan online bahan-bahan ATK seperti kertas 1 rim, origami, krayon, buku gambar, label, lem, stik es krim untuk variasi kegiatan setiap harinya.

Alhamdulillah, setiap kali mau tidur, saya selalu tanyakan besok mau main apa, mereka selalu menjawab antusias sembari menyebutkan jenis permainan untuk kita lakukan keesokan harinya. Meskipun setelah bangun tidur, kita semua lupa rencana mau main apa hari ini yg sudah kita sepakati semalem.

Anak-anak yang biasanya rentan sakit, pada masa pandemik ini Alhamdulillah sehat. Eh malahan saya yang kemarin sakit. Sakit gigi sih. Tapi tetep aja, untuk saya yang udah ngerasain sakit gigi sejak SD dan sakit hati, tetep punya semboyan, "LEBIH BAIK SAKIT HATI DARIPADA SAKIT GIGI"
it's true.

Beberapa hari lalu, sakitnya luar biasa. Pipi saya bengkak, mulut tidak bisa terbuka sempurna, dan rasa sakit gusi robek itu nyata sakitnya. Saya kira gigi bungsu tumbuh lagi, tapi apa iya? Di usia banyak gini masih numbuh gigi?

Bayangin aja, rasa sakitnya mengalahkan panasnya koyo cabe. Obat luar andalan saya saat sakit gigi ya koyo. Cuma biasanya pake koyo yang hangat. Kemarin stok koyo hangat saya habis, yang ada koyo cabe. Awalnya 1 koyo dibagi 4. Ga ada rasanya. 1 koyo dibagi 2, juga ga ada efeknya. Akhirnya 1 koyo utuh saya tempel, pun ga ada rasa panasnya. Sungguh sakit gigi ini menyiksaku.

Saya ga mood masak, ga mood makan. Gimana mau makan dan mengunyah, buka mulut aja susah dan sakit banget ketika gigi atas dan bawah beradu. Akhirnya beberapa hari makan bubur aja.

Mau ke dokter gigi kok takut ya selama masa pandemik gini. Jangankan ke dokter, keluar rumah aja males apalagi kalau inget abis keluar rumah harus mandi ganti baju sebelum pegang yang lain. Ribet!

Lalu gimana ya?
Saya teringat ada aplikasi Halodoc. Download dan melihat ada fitur apa saja di dalamnya.

Setelah registrasi dan mengisi profile, saya mencoba fitur live chat. Untuk penggunaan perdana kita mendapatkan voucher FREE konsultasi dokter selama 30 menit, yang harga aslinya sebesar 25 ribu/sesinya.


Saya memilih dokter gigi, kemudian muncul dokter yang bertugas. Lalu saya pilih dan muncul live chatnya. Eh ini beneran dokter manusia, bukan robot!

Dokter gigi yang bertugas memberikan saran dan rekomendasi obat pereda sakit sampai menunggu masa pandemik selesai karena kasus saya diperlukan Rontgen gigi dan penentuan apakah perlu dilakukan tindakan.

Setelah dokter memberikan rekomendasi obat, aplikasi Halodoc menggunakan lokasi terdekat dengan kita akan menginformasikan jenis obat beserta harganya dan bisa diantar menggunakan gojek. Asyik banget kan. One stop service. Semacam klinik online. Bisa Konsul sekalian dianterin obatnya. Keren banget aplikasi ini, apalagi di masa pandemik gini, daripada terkena resiko terpapar di RS atau klinik mending keluarin sedikit uang untuk konsultasi kesehatan online.

Kamu sudah coba?

Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terimakasih kunjungannya. Komennya dimoderasi. Semua komen saya baca Dan akan segera saya kunjungi balik :)