Ratu de Blog

queen-ing, washing then blogging

Thursday, July 2, 2020

Gaun.id Praktis Banget Untuk Hunting Gaun Pengantin Sesuai Budget



Aloha!
Apakabarnya Hari ini?
Semoga selalu sehat di masa pandemik ini ya.

Lelah juga tiap hari lihat dan dengar berita covid19, bahkan anak saya yg paling besar aja sekarang nyebut korona dengan "Kovit Naintin" etdah bocah.

Kita cerita-cerita ringan aja ya.
Dimasa gabut gini, saking gabutnya (meski piring kotor numpuk, pakaian bersih juga numpuk) tetiba pikiran merefresh semua impian-impian masa lalu. 

Tetiba saya inget dengan keinginan saya dulu, mau foto prewedding pake baju bridal. Itu keinginan yang terlambat sih sebenernya. Hahahaha. Keinginan itu baru hadir sesaat setelah saya resmi menikah. Kenapa ga dari sebelum menikah? Mepet banget waktu dan dompetnya, ga ada setahun dari acara lamaran ke acara ijab Qabul. 

Akhirnya abis resmi ganti status tetiba kok saya punya keinginan itu, eh ga lama saya hamil dong. Ya kali foto pake baju bridal pas saya hamil, apa kata netizen? Dikata hamil duluan baru nikah? Mau ditaro dimana muka ini? Wkwkwkwk. 

Lalu, melahirkan, ngasuh anak, hamil lagi, ngasuh lagi, gitu aja terus sampe Upin Ipin kuliah. Lama-lama pupus juga keinginan itu, karena lama2 body pun menyesuaikan dengan kondisi hati yang selalu happy, timbangan pun happy. Tak elok pake baju bridal lagi. Apalagi baju bridal kan warnanya putih, mengexpose body banget. 
Ya sudahlah.

Ga lama, saya mendengar teman saya akan menikah di masa pandemik gini. Senangnya. Ya masa pandemik gini ga tau sampe kapan kan? Ya kalo mau nikah ya nikah aja, yang penting sah dan ga bikin kerumunan sampai kaya acara konser. 

Menurut saya, menikah di masa pandemik ini lumayan low cost ya, karena :

1. Acara intinya saja
Akad nikah/pemberkatan, pesertanya pengantin, orang tua dan keluarga beserta beberapa tetangga dekat/pengurus lingkungan. 
    
2. Dekorasi & Make up
Cukup pelaminan minimalis, mini studio foto untuk keperluan dokumentasi. Make up pun cukup untuk acara yang beberapa jam. 
Temen saya menikahkan anaknya dan pelaminan minimalis tapi tetap cantik di garasi rumahnya, yang lebarnya sekitar 3m panjang 4m. Kalau masa pandemik gini, kayanya ga perlu juga tenda heboh kaya pesta non pandemik.

3. Undangan/Pemberitahuan Acara Pernikahan
Undangan bisa dikirimkan secara online melalui sosial media seperti grup WA. Alhamdulillah banget bisa bikin sendiri, kalau ga bisa pun sekarang banyak jasa desain undangan yang mengakomodir undangan soft copy seperti ini. Ya maksud undangan ini sih sebagai pemberitahuan bahwa calon pengantin akan menikah. 

4. Konsumsi
Konsumsi acara hanya menyediakan untuk keluarga, petugas pernikahan dan beberapa saksi, ya sekitar 50-100 porsi an lah ya. Sisanya tetangga-tetangga sekitar bisa dikirimkan nasi box/paket sembako sebagai pemberitahuan acara pernikahan dan mohon doa restu. 
Ya ikhlas aja kalo ga balik modal, karena saya rasa syukuran pernikahan bukan suatu moment investasi kita untuk bisa balik modal dengan modal yang sudah kita keluarkan. Syukur-syukur mereka bisa mendoakan kebaikan dan kelanggengan pernikahan kita dan transfer angpao. Tapi, sekali lagi, anggap aja sedekah. 

5.  Gaun dan Jas Penikahan
Biasanya sih MUA akan memberikan paket rias dan dekorasi berikut penyewaan gaun dan pakaian mempelai prianya. 
Kalau ternyata koleksi gaun pengantin yang dipunyai perias tidak ada yang sreg di hati, kenapa ga coba beli aja?

Ngomong-ngomong tentang Gaun, terutama gaun pengantin, ternyata saya baru tau ada yang namanya sebuah web agregator gaun.id
Web ini menampilkan semua Macam gaun berdasarkan kategorinya, seperti Bodycon dress, dress brokat, gaun pengantin, gaun pesta brokat, dress batik, gaun dan gaun pesta. 

Gaun.id ini selain mengumpulkan semua item gaun/dress juga menampilkan harganya, sehingga bisa langsung kita bandingkan harganya dan memudahkan kita untuk mencari gaun sesuai budget.

Ya tapi kan aku cuma mau nikah sekali, berarti cuma dipake 1 kali?
Ya abis nikah, disewain aja ke periasnya dengan sistem bagi hasil. Gampang toh? Daripada udah dibeli, diem aja di dalem lemari, menuh-menuhin lemari doang. Ahahaha. 

Baiklah mari kita coba liat-liat di gaun.id ini. Entah kenapaa kok saya tertarik dengan kategori Gaun pengantin. Hihihi. Ya mungkin berkaitan dengan foto bridal itu kali ya. 

Tebak berapa harga gaun pengantin yang ada di pikiran kamu?
Kalo saya estimasi yang namanya gaun pengantin itu start dari 5 jutaan. Lalu pas saya buka di gaun.id saya langsung syok, mamennnn 500rb an aja ada. 

Lalu saya lihat-lihat foto gaun pengantinnya, sampailah ke salah satu foto gaunnya. Saya klik dan langsung redirect ke bukalapak.com ishhh gampang banget. Kirain yang jual gaun pengantin cuma di bridal-bridal mall yang harganya 5jutaan itu. 
Ini asyiknya gaun.id dia bukan toko di atas toko, hanya mencoba menghubungkan kebutuhan gaun berdasarkan kategori ke e-commerce yang lazim kita gunakan di sini. Seperti Lazada, Tokopedia, Berrybenka dll. Yang e-commerce luar juga ada sih, cuma biasanya kan orang Indonesia maunya yang simple dan familiar dengan yang kita pakai sehari-hari, lebih praktis penggunaan dan alur pembayarannya, ye kan??

Masih ga kebayang ya, nih saya kasi tau caranya. 

Nah gampang kan? Di jaman pandemik gini keluar rumah aja udah ribet, makanya saya kasi tau yang praktis-praktis aja. Cobain deh cari gaun pakai gaun.id pasti hidup akan semakin mudah.
Friday, May 15, 2020

Tetap Glowing Meski #DirumahAja dengan Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer



Aloha!

Apakabar semua? Semoga sehat-sehat selalu ya di masa pandemik ini. 
Jadi apa saja perkembangan selama #DirumahAja ?

Saya lagi senang berkebun. Semenjak 15 April, saat diumumkan awal-awal pandemik Corona, yang saya pikirkan adalah bagaimana menjaga kestabilan pangan minimal apa ajaa yang saya makan, bisa saya tanam secepatnya. Lalu perkembangannya selama 2 bulan ini udah sampai mana? Bibit cabe baru mau mulai tumbuh, gaes. Hahaha.

Suami saya tidak WFH (Work From Home) karena semua data yang diperlukan harus diakses dari kantor. Selain itu, alasan tidak WFH adalah karena kalau suami saya di rumah, otomatis HP harus berpindahtangan ke si bungsu. HP jaman sekarang bisa buat apa aja, dari mulai browsing, shopping, working, sampe gaming. Hahahaha. 

Karena suami saya ga WFH, kebiasaan cuci mencucipun menjadi berubah. Yang tadinya saya mencuci 2-3 hari sekali sebelum pandemik, menjadi setiap hari ketika suami bekerja. Baju kotor yang dipakai suami bekerja, keesokan harinya harus sudah dicuci, karena saya ga mau segalam macam kuman dan virus yang melekat selama aktivitas di luar rumah bertebaran di dalam rumah hanya karena hal sepele, baju kotor dibiarkan teronggok lama di keranjang baju kotor. Hal ini juga berlaku untuk semua pakaian yang saya pakai kalau harus keliar rumah, seperti beli sayur. Sepulang dari tukang sayur, buru-buru mandi dan ganti baju. Nah, tambah banyak deh pakaian kotor. Gak papalah konsumsi detergen dan softener lebih banyak dari biasanya, asal sekeluarga tetap sehat. Tak apalah tiap hari berjemur, jemur pakaian, angkat pakaian di bawah teriknya matahari demi kesehatan keluarga. Itu yang utama. 

Awalnya saya cuek aja dengan aktivitas baru, sering-sering menjemur baju di terik matahari. Tapi lama-lama perih juga rasanya. Pernah kepikiran pakai sunscreen atau cream pelembab tapi hanya sebatas wacana. Pekerjaan rumah biasanya saya lakukan sebelum saya mandi. Saya mandi setelah semua pekerjaan rumah selesai. Baru deh kepikiran pake cream. Keburu telat! Udah gosong-gosongan di terik matahari baru berwacana pakai cream tabir Surya. Hahahaha.

Akhirnya saya beberapa hari lalu mengubah strategi pemakaian cream tabir surya. Pokoknya setelah sholat shubuh/cuci muka bangun tidur, langsung pakai cream tabir surya. Oke. Tapi kira-kira pake cream muka apa ya yang ada perlindungan tabir Surya dan bikin tetap glowing?

Ditengah kegalauan saya, tetiba ada teman yang merekomendasikan moisturizer sunscreen Mama's choice. Ga sekedar ngerekomendasikan, tapi juga ngasih 1 paket berisi moisturizer, mouthwash, massage oil, toothpaste. Katanya singkat, "udah, coba aja dulu moisturizer ini. Pasti suka". 
"Eh, tapi ini kan buat bumil dan menyusui?"tanya saya lagi.
"Loh malah bagus dong. Untuk bumil dan busui kan lebih strict kandungan bahannya, kalo bumil aja aman, masa yang ga lagi hamil dan menyusui mikir ga aman?"
Lah iya, bener juga ya. 



Waktu saya hamil anak pertama, saya inget. Tetiba kulit wajah jadi kering. Di ujung bibir, lipatan hidung, semua mengelupas. Padahal jelas-jelas kulit saya berminyak. Ya namanya bawaan bayi kan, yang berminyak aja bisa jadi kering kerontang. Ternyata, 80% bumil mengalami hal yang sama, dan 20% mengalami jerawat. Karena adanya perubahan kondisi kulit itu, hanya ada 2 opsi : 58% bumil ganti skincare dengan yang aman bumil busui ATAU 27% bumil memilih stop pakai skincare yang membahayakan janin. Saya kesulitan mencari #SkincareRamahBumilBusui . Ada sih kosmetik yang mengklaim aman untuk bumil busui. Tapi klaim itu hanya sebatas tanpa pewangi dan whitening, padahal klaim aman untuk bumil bukaan hanya itu. Dan yang sedihnya lagi, brand itu tapi bukan spesialis Skincare Bumil dan belum ada sertifikasi Halal. Sedih hatiku. Akhirnya saya masuk ke golongan yang 27%, mungkin juga didasari karena saya hamil anak cowo. Hahahaha. 

Alhamdulillah ya sekarang udah ada Mama's Choice memproduksi skincare khusus untuk bumil dan busui bebas toksin. Jadi bumil busui ga perlu kuatir lagi tampil cantik tanpa mengganggu tumbuh kembang janin dan bayi. Bumil busui harus bebas stress, supaya happy dan glowing selalu. Ngomong-ngomong, apa aja sih kandungan bahan yang terlarang bagi bumil busui? Jangan-jangan, mom's juga ga familiar? Sini saya kasi tau, kandungan bahan yang terlarang ada di skincare bumil busui antara lain : fragrance (pewangi), alkohol, tabir Surya kimia, merkuri, retinol. 

Pagi-pagi abis shaur dan sholat shubuh, sebelum matahari muncul, segera saya oleskan Mama's choice Daily Protection Face Moisturizer. Kemasannya tube, sehingga cream mudah dikeluarkan mengikuti gravitasi. Teksturnya putih susu agak pekat, namun ketika dioles di wajah, sesaat kemudian meresap dan wajah saya yang cenderung berminyak, menjadi lebih matte. Setelah itu, saya membaca box packagingnya. 



Produk ini diklaim untuk semua jenis kulit, terutama kulit kering, kombinasi dan berminyak. Terbukti di kulit berminyak saya, cream ini ga buat semakin mengkilap. Tidak mengandung hidrokuinon dan Paraben yang terlarang untuk bumil dan busui. Pelembab ini mengandung Ekstrak Beras untuk membuat wajah menjadi glowing/bersinar sekaligus melembabkan wajah lebih dalam. Pelembab sekaligus tabir Surya dari mineral (bukan menggunakan Oksibenzon atau Azobenzon)  dengan PA 25+++ melindungi dari UVA dan UVB. Yang paling saya suka adalah kandungan Asam Hyaluronat yang melembabkan kulit dan mencegah penuaan dini. 

Ya tentulah, meskipun #DirumahAja jemur baju tiap hari, Mama's choice Daily Protection Face Moisturizer akan menambah kepercayaan diri menjadi #MamaGlowingLuarDalam karena Mama's Choice #SkincareRamahBumilBusui #PilihanAmanMama. 
Selain moisturizer ini, ada banyak produk Mama's Choice loh, terutama yang mau hamil aman Glowing luar dalam,  yang mau belanja bisa ke : https://mamaschoice.id/shop/

Mama's choice Daily Protection Face Moisturizer ini bisa didapatkan lebih mudah di e-commerce favorit seperti shopee. Sstttt... Jangan bilang-bilang ya, saya punya voucher khusus untuk moms, voucher potongan sejumlah Rp. 25000 untuk pembelian minimal Rp. 150.000 di Shopee


ini kodenya : 
MAMARTSYA

Dengan cara : Klik profile Saya, Voucher saya, masukkan kode tersebut. 

Mayan kan potongannya. Buruan belanja, cuma sampai tanggal 31 mei. Mayanlah, meski lebaran #DirumahAja, mama harus tetap glowing dong.
moms, sudah siap lebaran??? Kuy lah buruan mesen, karena bentar lagi lebaran. Nyesel loh kalo Glowingnya telat. Hahahaha.


Sunday, May 3, 2020

Tetap Tenang Saat Sakit Di Masa Pandemik Corona


Aloha!
Apakabarnya di awal Mei ini?
Semoga tetap sehat dan tetap setia di rumah.

Pandemik virus Corona ini memang
merupakan kejadian luar biasa.
Kejadian luar biasapun terjadi di rumah saya, pada suatu pagi sebelum suami saya berangkat kerja.

Suami : "Ma, gula ada?"
Saya : "Ada. Memangnya habis? Kan baru diisi?"
Suami : "Gula kita apa?" (Sembari mengetik di hp)
Saya : "ge em pe"
Suami : "berapa? Ada di sini?"
Saya : "ada. 18ribu sekilo. ADA APAAN SIH PAGI-PAGI GINI KAMU NANYAIN MERK GULA??" (saya penasaran sembari ngikik)
Suami : "oh ini, si Ruse, nanyain stok gula. Soalnya di daerah rumahnya stok gula merk GULAMU (*disamarkan) dan merk gula lainnya dimana-mana habis"
Saya : "lalu?"
Suami : "ya dia menyarankan kita untuk stok gula untuk beberapa bulan ke depan"
Saya : "ohhhhh begitu. Alhamdulillah pasokan gula di sini aman, cuma duitnya yang ga ada untuk nimbun gula. Hahahaha" (nyengir)

Luar biasa kan? Suami saya biasanya mah tau minum kopi manis pake gula tanpa peduli apa merk gulanya tetiba jadi perhatian sampe nanyain merk gula. Pun temennya  yang diujung sana tetiba ngerti merk gula dan harganya. Saya cuma ngikik-ngikik aja inget kejadian itu merusak pagi saya yang syahdu dan normal menjadi tidak normal dan luar biasa.

Pandemik Virus Corona ini mau-ga-mau mengharuskan saya dan keluarga untuk membetahkan diri di rumah. Ga ada jalan-jalan santai sore naik motor. Ga ada jalan-jalan eksplor Jonggol, ga ada kunjungan rutin ke rumah orangtua di Bekasi.
Seribu kali sehari, anak saya bertanya, "mah kapan kita ke rumah eyang?".
Seribu kali saya jawab dengan jawaban yang sama, "nanti ya nak kalau sudah selesai Coronanya".
Yang entah kapan, ga ada yang tau.

Awal-awal pembatasan sosialisasi mandiri terasa begitu berat. Waktu banyak, tapi kok ga sempet me-time. Ternyata, anak-anak juga sebentar-sebentar minta ditemenin main. Sebentar-sebentar minta cemilan popcorn. Sebentar-sebentar minta cemilan buah.
Saat mereka sudah mulai bosen dengan mainannya, saya pun membiarkan mereka yang berinisiatif main trampolin di kasur. Ya sudahlah, mereka BT, jenuh dan bosen. Abis main trampolin, bisa diberesin lagi. Ya mau gimana lagi? Semua idealisme rumah harus rapih, gadget dan screen time ideal harus saya abaikan. Pandemik ini ga mudah untuk semua orang, termasuk anak-anak.

Rumah saya ga sebesar lapangan bola tapi Alhamdulillah bisa menjadi naungan saat hujan panas. Ya bocor-bocor dikit pas hujan heboh mah wajar. Di ruang yang terbatas itulah, saya ingin membuat anak-anak nyaman dan betah. Gak papa, berantakan, nanti saya bisa suruh mereka merapihkan atau suami saya bantu merapihkan printilan-printilan mereka.

Stok cemilan favorit mereka yang bisa saya olah sendiri, saya sediakan. Seperti jagung popcorn, jelly, buah, roti. Apa aja sebatas kemampuan saya, pasti saya usahakan penuhi.

Setelah sekolah TK anak saya diliburkan, saya langsung pesan online bahan-bahan ATK seperti kertas 1 rim, origami, krayon, buku gambar, label, lem, stik es krim untuk variasi kegiatan setiap harinya.

Alhamdulillah, setiap kali mau tidur, saya selalu tanyakan besok mau main apa, mereka selalu menjawab antusias sembari menyebutkan jenis permainan untuk kita lakukan keesokan harinya. Meskipun setelah bangun tidur, kita semua lupa rencana mau main apa hari ini yg sudah kita sepakati semalem.

Anak-anak yang biasanya rentan sakit, pada masa pandemik ini Alhamdulillah sehat. Eh malahan saya yang kemarin sakit. Sakit gigi sih. Tapi tetep aja, untuk saya yang udah ngerasain sakit gigi sejak SD dan sakit hati, tetep punya semboyan, "LEBIH BAIK SAKIT HATI DARIPADA SAKIT GIGI"
it's true.

Beberapa hari lalu, sakitnya luar biasa. Pipi saya bengkak, mulut tidak bisa terbuka sempurna, dan rasa sakit gusi robek itu nyata sakitnya. Saya kira gigi bungsu tumbuh lagi, tapi apa iya? Di usia banyak gini masih numbuh gigi?

Bayangin aja, rasa sakitnya mengalahkan panasnya koyo cabe. Obat luar andalan saya saat sakit gigi ya koyo. Cuma biasanya pake koyo yang hangat. Kemarin stok koyo hangat saya habis, yang ada koyo cabe. Awalnya 1 koyo dibagi 4. Ga ada rasanya. 1 koyo dibagi 2, juga ga ada efeknya. Akhirnya 1 koyo utuh saya tempel, pun ga ada rasa panasnya. Sungguh sakit gigi ini menyiksaku.

Saya ga mood masak, ga mood makan. Gimana mau makan dan mengunyah, buka mulut aja susah dan sakit banget ketika gigi atas dan bawah beradu. Akhirnya beberapa hari makan bubur aja.

Mau ke dokter gigi kok takut ya selama masa pandemik gini. Jangankan ke dokter, keluar rumah aja males apalagi kalau inget abis keluar rumah harus mandi ganti baju sebelum pegang yang lain. Ribet!

Lalu gimana ya?
Saya teringat ada aplikasi Halodoc. Download dan melihat ada fitur apa saja di dalamnya.

Setelah registrasi dan mengisi profile, saya mencoba fitur live chat. Untuk penggunaan perdana kita mendapatkan voucher FREE konsultasi dokter selama 30 menit, yang harga aslinya sebesar 25 ribu/sesinya.


Saya memilih dokter gigi, kemudian muncul dokter yang bertugas. Lalu saya pilih dan muncul live chatnya. Eh ini beneran dokter manusia, bukan robot!

Dokter gigi yang bertugas memberikan saran dan rekomendasi obat pereda sakit sampai menunggu masa pandemik selesai karena kasus saya diperlukan Rontgen gigi dan penentuan apakah perlu dilakukan tindakan.

Setelah dokter memberikan rekomendasi obat, aplikasi Halodoc menggunakan lokasi terdekat dengan kita akan menginformasikan jenis obat beserta harganya dan bisa diantar menggunakan gojek. Asyik banget kan. One stop service. Semacam klinik online. Bisa Konsul sekalian dianterin obatnya. Keren banget aplikasi ini, apalagi di masa pandemik gini, daripada terkena resiko terpapar di RS atau klinik mending keluarin sedikit uang untuk konsultasi kesehatan online.

Kamu sudah coba?